title

Wednesday, 30 March 2016

MENUAI CINTA

MENUAI CINTA
 

Cerita dari Tiongkok. Disebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Ia mempunyai seorang hamba yang sangat lugu. Begitu lugunya ia sehingga orang-orang memanggilnya si bodoh.
Suatu kali sang tuan m enyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih utang para penduduk di sana.


“Utang mereka sudah jatuh tempo” kata sang tuan. “Baik Tuan,” Sahut Sibodoh. “Tetapi nanti uangnya mau diapakan?”
“Belikan Sesuatu yang aku belum punya,” jawab sang tuan.
Pergilah si bodoh ke kampung yang dimaksud. Cukup kerepotan juga ia menjalani tugasnya mengumpulkan receh demi receh uang utang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin dan pula ketika tengah terjadi kemarau panjang.
Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.”
“Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dipunyainya?”
Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dai bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. “Tuanku memberikan uang ini pada kalian,” katanya. Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan.



Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benar-benar bodoh,” omelnya.
Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka, pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Di terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa rapa penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat, mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.
Siapakah penduduk kampung itu, dan mengapa mereka meu berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan.
“Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih utang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh, “Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir. Tuan sudah memiliki segalanya. Satu-satunya hal yang belum tuanku punya adalah cinta di hati mereka. Maka saya bagikan lagi uang itu atas nama Tuan. Sekarang Tuan menuai cinta mereka,”
(Deasy M. Destiani;173)

No comments:

Post a Comment